Tuesday, September 11, 2012

Belajar (di) Interview

Pernah nggak ngerasain dateng interview langsung ditolak?

Yes I am! Baru aja tadi siang gue merasakan hal itu. Awalnya gue merasa sangat dipandang sebelah mata, tapi ternyata ada hal positif (banget) dibalik itu.

Karena kebiasaan nggak bawa porto (biasanya hrd agency udh ngeprint porto applicant) jadi hari ini gue berangkat interview dengan modal fotokopi kartu identitas, ijazah dan transkip nilai sesuai dengan request dari hrd. Berangkatlah gue dengan perasaan legowo alias kun fayakun atau yang terjadi terjadilah.

Pas dateng gue langsung disuruh isi 6 halaman formulir calon employee (yang sejujurnya gue paling malas ngisi beginian). Nggak lama gue selesai isi, datang seorang wanita separuh baya, masih ayu, mature dan sangat berwibawa.

Pembukaan interview udah blablabladudunanana. Dia tanya kenapa gue setahun kok udah berani untuk apply ditempat lain, padahal menurut dia gue ini belum dapat pengalaman yang cukup (beliau 15 tahun bekerja diperusahaan sebelumnya dan diperusahaan ini sudah hampir 6 tahun).

Setelah gue jelasin pekerjaan yang telah gue selesaikan apa aja dan alasan gue apa aja kenapa gue mau pindah, ada beberapa hal yang bisa gue tangkep dari interview tadi:

1. KEMANA PUN lo interview jangan lupa bawa CV dan PORTO lo. Lo nggak bisa nyamain setiap agency punya hrd yang akan ngeprint CV atau PORTO lo saat lo interview.

2. For some people a year experienced isn't enough. Karena beliau ini orangnya sangat setia sama pekerjaan dan company-nya. Even beliau pertama kali kerja nggak dibayar, beliau bisa bertahan 2 tahun untuk mendapatkan ilmu disebuah agency ternama. Beliau membagi ilmunya sama gue, bertahan Jeng, ambil apa yang lo bisa ambil karena 2 atau 3 tahun, confidence dan knowledge lo akan bertambah.

3. Jangan sembarangan apply, pikir dulu matang-matang apa kita sudah pantas dan sudah siap pindah ke tempat yang lebih apik segala-galanya.

Itu 3 hal garis besar dari interview gue tadi. Jujur gue kaget atas hasil langsug yang diutarakan dari mulut beliau. Tapi menurut gue ini interview paling berwarna, interview ini adalah interview pertama gue yang paling nggak sia-sia. Beliau sang interviewer mengajarkan gue sedikit cara untuk struggle di advertising, mendalaminya sebagai karir gue nantinya. Gue nggak pernah nemu interviewer yang care sama calon employee sampe-sampe gue seperti ketemu sama dosen pembimbing. Beliau bilang, beliau sangat suka mengenal calon karyawannya apalagi calon relan satu timnya sehingga banyak pertanyaan-pertanyaan yang out of the box dan membuat jawaban kita 'strike'.


Adios

0 comments:

Post a Comment